Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts
Nov 26, 2009

Selamat Idul Adha

Sudah lama tidak posting. Tidak tahu, apakah dengan begitu ranking akan turun atau tidak. Yang jelas, kesulitan posting karena adanya masalah pada acer kesayangan yang tiba-tiba mati. Padahal itu adalah laptop pertamaku dan sempat dipuji karena sudah sekian lama tapi tidak bermasalah, meskipun kata orang acer artinya awas cepat rusak. Apa daya, garansi juga sudah habis.

Hal ini mungkin karena cara pemakaiannya yang kurang tertib. Mudah-mudahan tidak terjadi pada orang lain. Kalaupun terjadi apa boleh buat, namanya juga rezeki. Semoga ada gantinya. Acer lagi ? Siapa tahu yang berikutnya lebih bagus dan lebih awet.

Dan di bulan yang baik ini, kami mengucapkan selamat Idul Adha, semoga mendapat keberkahan yang banyak di bulan mulia ini. Mereka yang berhaji menjadi haji yang mabrur. Amin.

Baca Selengkapnya ...
Sep 29, 2009

Superhero itu Adalah Telkomsel Flash ?

Dulu ada film tentang seorang superhero yang memiliki tenaga super. Dia memiliki kekuatan itu karena badannya yang setengah robot, cyborg. Untuk membangun kekuatannya yang seperti itu ternyata memerlukan dana yang tidak sedikit. Paling tidak enam juta dollar Amerika dikeluarkan untuk menjadikannya seorang super. Dan itu sebanding dengan julukannya, The Six Million Dollar Man. Selain kekuatannya yang super, larinya sangat cepat dan mampu mengimbangi kecepatan alat transportasi yang ada waktu itu.

Waktu anak-anak dulu film itu merupakan salah satu yang paling ditunggu. Maklum, waktu itu jarang ada tontonan yang menarik. Makanya setelah Dunia Dalam Berita yang biasanya waktu putar film ini langsung siap-siap. Itupun nontonnya di tv tetangga rame-rame. Seru.

Salah satu yang khas dari film ini adalah pada adegan lari dan perkelahian antara sang superhero dengan musuh-musuhnya. Pasti pada adegan ini divisualisasikan dengan cara slow motion, adegan lambat. Soalnya, mungkin, kalau tidak begitu akan sulit mata mengikuti gerakannya (??). Dipikir-pikir sekarang lucu juga jadinya. Katanya larinya sangat cepat, tapi dalam adegannya malah lambat. Aneh, tapi tetap saja suka. Namanya juga film.

Dan ternyata pada masa sekarang ini ada yang mirip-mirip seperti itu. Bukan tentang superhero-nya, tapi tentang ciri khasnya. Katanya cepat tetapi menggunakan adegan lambat. Bukan pula tentang film tetapi kenyataan. Kesamaan keduanya pada penggemarnya yang tetap banyak.

Ini semua tentang Telkomsel Flash (unlimited). Namanya flash, yang mestinya seperti flash, wush… wush… wush… Nyatanya seperti, apa ya, krieet… krieet… krieet… (maunya suara dokar tua yang jalannya saja sudah susah). Ditambah lagi kabar cukup mengezutkan bagi penggemar pada tanggal 1 September lalu. Semua kecepatan direduksi sedemikian rupa sehingga banyak penggemar yang merasa dirugikan. Berhamburanlah kata-kata makian dari penggemar menanggapi hal itu. Tetapi apa daya, namanya cuma konsumen, dalam perjanjiannya juga biasanya(kalo gak salah, CMIIW) selalu ada statemen sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Ya itulah yang terjadi. Sang superhero tetap melenggang dengan aksinya dan penggemarnya tetap paling banyak dibanding yang lain. Atau ada yang lain yang lebih baik ?

Baca Selengkapnya ...
Jan 28, 2009

First Journey Continues : Borneo

klmPerjalanan paling jauh yang pernah saya lakukan sebelum harus ke Samarinda dulu adalah ke Yogyakarta. Itu pun bukan sengaja jalan sendiri ke sana, melainkan bersama teman-teman SMA dalam rangka study tour. Jadilah bisa melihat-lihat Istana Yogyakarta, Malioboro, dan yang lainnya, serta tak lupa ke Candi Borobudur. Waktu itu di Yogyakarta bertepatan dengan penyelenggaraan MTQ tingkat Nasional.

Selain itu praktis tidak ada aktivitas jalan-jalan lainnya. Paling kalau Lebaran ke beberapa tempat wisata yang dekat, Kebun Raya Bogor, Kebun Binatang Bandung, atau Ciater. Biasanya naik truk bak terbuka, yang isinya kadang sampai hampir tumpah ruah. Maklum lah waktu itu situasi dan kondisi tidak mendukung.

Maka perjalanan ke Samarinda menjadi sebuah perjalanan terjauh sekaligus dalam rangka tugas negara untuk bekerja di manapun di seluruh wilayah negeri tercinta. Perjalanan yang waktu itu harus tepat waktu karena tiket sudah diberikan untuk tanggal sekian harus berangkat. Padahal ternyata tiket yang sudah ada itu bisa saja di-cancel kalau mau. Tetapi waktu itu boro-boro tahu segala cancel meng-cancel tiket, naik pesawat saja belum pernah.

Bisik-bisik tentang pembagian tiket yang langsung dibelikan waktu itu juga muncul. Katanya karena ada kerabat pejabat yang memiliki travel agent, jadi dibelikan di situ. Pesawatnya juga sama semua, Simpati Air, yang waktu itu merajai angkasa raya Indonesia. Yang belakangan ternyata bermasalah dan langsung menghilang dari peredaran. Wah jadi ngegosip.

Singkat cerita, setelah perjalanan sekitar dua jam dari Balikpapan melewati perkampungan dan lebih banyaknya lagi hutan, sampai juga di Samarinda. Salah satu hutan yang dilewati ada satu hutan konservasi yang namanya Bukit Suharto. Hutannya lumayan lebat juga kalau dilihat di sepanjang pinggir jalan. Bisik-bisik lagi, katanya, yang lebat hanya yang dipinggir jalan saja. Jika dilihat lebih ke dalam lagi, gundul, wallahu a’lam.

smdtepianTernyata benar kadang-kadang kabar itu jauh panggang dari api. Kekhawatiran yang macam-macam tentang Samarinda, yang katanya masih hutan, susah angkutan, susah cari barang keperluan sehari-hari, penduduknya belum maju, buyar semua. Meskipun kotanya kecil, waktu itu tahun 1995, sebagai ibukota Propinsi Kalimantan Timur, lumayan lengkap fasilitasnya.  Dari sisi luas kota dan keramaian kalah dari Balikpapan yang merupakan wilayah kota/ kabupaten (daerah tingkat II) yang bukan ibu kota Propinsi. Memang waktu itu (mungkin sampai sekarang) banyak perkampungan yang terkesan kumuh di pinggiran sungai. Tak apa-apa, namanya juga Kota Tepian. Di Jakarta saja, Ibukota Negara, lebih banyak lagi yang seperti itu.

Sampai di Samarinda, masalah baru muncul, mau tinggal di mana ? Di hotel ? Uang jalan saja sisanya tinggal lima ratus ribu-an. Kontrakan, kost ? juga belum ada. Akhirnya ada senior yang sudah duluan di sana dan siap menampung para pengungsi yang baru datang. Kami pun langsung menuju ke sana dan numpang beberapa hari sambil mencari kontrakan atau tempat kost yang nyaman dan dekat dengan kantor.

Besoknya, setelah bersiap-siap dan berpakaian ala kantoran, berangkatlah ke kantor baru dengan segenap perasaan yang tak tahu bagaimana bentuknya. Walaupun dulu pernah PKL, tapi hanya beberapa hari dan itu pun kebanyakan jalan-jalannya dan main-mainnya. Yang sebelumnya biasanya magang dulu di kantor pusat, jadi sedikit banyak tahu lah bagaimana sih ngantor. Tapi gak apa-apa, siap tempur saja dengan segala kondisi yang ada.

Lapor, menghadap Kepala Kantor. Ternyata belum datang, katanya biasanya datangnya paling jam sembilan atau jam sepuluh, alamak. Kami berlima masuk kantor ini. Memang kantor pertama saya waktu itu kata orang kantor yang kurang jelas. Tak tahu apanya yang kurang jelas. Plesetannya saja Kerja Terus Untuk Apa (???). Setelah Sang KK datang, barulah melapor dan diberi arahan ini dan itu, biasalah. Ternyata beliau seorang yang eksentrik, bahkan kata orang-orang di situ termasuk slebor juga. Kadang-kadang suka melawan instansi vertikal di atasnya. Wah, seru nih.

Kami pun dibagi tugas dan langsung hari itu diberi arahan tentang tugas yang harus dikerjakan serta tak lupa berkenalan dengan para karyawan-karyawati di situ. Saya satu Seksi dengan si Harat, Tatak, Ikoer, dan Jejen sendiri-sendiri di Seksi yang lain. Di situlah bertemu dengan Cak Irul, senior yang juga Ustadz kocak. Sekarang dia di Jakarta.

Demikianlah hari-hari pertama diisi dengan perkenalan, dengan pekerjaan baru, teman-teman kantor baru, suasana baru, lingkungan baru, dan lain-lain yang semuanya baru. Tinggal masih numpang sambil mencari tempat kost atau kontrakan yang pas, tempat dan harganya.

Ada satu pengalaman waktu numpang tinggal di sana. Suatu ketika datang senior yang kayaknya angkatan lama berkunjung ke sana. Dia datang bawa mobil sedan bro, bagus, mengkilap. Apa mereknya gak tahu. Mana tahu yang gituan, orang kampung. Sebentar di situ bicaranya tak terjangkau. Beberapa kali dia ngomong sendiri tak tahu dengan siapa. Dia pake henpon. Itu tahun 1995 lho, penghasilan saya saja waktu itu sekitar 400 ribuan. Yang bersangkutan adalah salah satu aparat instansi yang bertugas mengumpulkan pemasukan buat negara. Prihatin.

Baca Selengkapnya ...
Nov 21, 2008

First Journey

Ini adalah berbagi kisah, tempat sebagian kisah perjalanan bermula. Lapangan Banteng, di Jakarta Pusat, tempat berdiri sebuah kantor yang berpengaruh tjkterhadap jalannya roda pemerintahan di negeri ini. Dan dari sinilah bermula perjalanan menjelajahi kota-kota di Indonesia. Saat itu SK dibagikan dengan disertai uang jalan sekaligus tiket (yang dibelikan dari uang jalan kita juga) ke tempat tujuan masing-masing. Lapangan Banteng pun selanjutnya menjadi titik awal petualangan, demikian juga seterusnya Lapangan Banteng menjadi penentu ke mana arah perjalanan mutasi akan dituju (tentu setelah ketentuan Allah SWT). 

Samarinda, sebuah kota yang sebelumnya jarang disebut-sebut langsung menjadi perbendaharaan kata favorit. Peta pun dicari, di manakah gerangan letaknya Samarinda itu. Sang ibunda langsung menangis mendengar salah satu anaknya akan terbang jauh ke seberang pulau yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Beraneka wejangan dan nasehat selanjutnya menjadi menu utama sebelum melakukan keberangkatan. Bagaimana hidup di negeri orang, bagaimana menjaga tata krama, dan lain-lainnya. Pendek kata semuanya berujung pada arahan untuk menjadi seperti kata pepatah ; di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Dalam hati sempat juga ada kegalauan, bagaimana tidak, waktu sebelumnya belum pernah pergi ke tempat yang begitu jauh, naik pesawat pula, sendirian lagi.

Acara keberangkatan di bandara Sukarno-Hatta berjalan dengan penuh haru. Maklum, saya adalah satu-satunya waktu itu anak yang pergi jauh dari orang tua sementara saudara-saudara (7 orang) yang lainnya kumpul semua dekat dengan orang tua. Ibunda melepas dengan tangisan, begitu juga yang lainnya. Tentu saja diiringi do'a untuk anaknya tercinta.

Kegalauan yang muncul sebelum berangkat ternyata tidak perlu terjadi. Sebab di pesawat bertemu dengan teman-teman lain yang juga mau ke Samarinda, waktu itu kurang lebih ada tujuh oraklmng. Bahkan sewaktu turun di Bandara Sepinggan Balikpapan bertemu lagi dengan teman-teman lainnya yang transit sebelum melanjutkan perjalannya ke wilayah  Sulawesi. Bahkan di Bandara Sepinggan sudah menunggu paman salah seorang teman yang kebetulan bekerja di Pertamina Balikpapan. Lumayan, di rumahnya bisa istirahat, santai-santai, makan-makan, tanya-tanya, dan dicarikan kendaraan untuk bisa meneruskan perjalanan ke Samarinda. Kalimantan, here I'm coming..

Perjalanan menuju Samarinda dilakukan dengan menggunakan taksi carteran. Dalam rangka penghematan kita carter dua taksi dan diisi 7 orang plus paman teman tadi untuk menjadi guide sampai di sana. Selama kurang lebih dua jam melintasi jalan Balikpapan - Samarinda yang terlihat kebanyakan pepohonan dan hutan. Jarang sekali menjumpai rumah di pinggir jalan. Jangan-jangan sampai di Samarinda pun terus-menerus seperti ini, masih hutan dan jarang rumah penduduk. Saking khawatirnya ada teman yang membawa berbagai macam perlengkapan mandi dan pakaian untuk bekal selama di Samarinda. Maklum kabarnya memang di sana masih sulit dan transportasinya pun menggunakan perahu.

Gak segitunya kali……

Baca Selengkapnya ...
Nov 4, 2008

Mutasi

Ini mungkin berbagi kisah. Hidup memang penuh misteri. Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu. Dan memang road map kehidupan kita sudah jelas dan tertulis dalam kitab yang nyata. Akan ke mana kita, jadi seperti apa kita, dan bagaimana keadaan kita masa mendatang, apakah saat-saat berikutnya, jam berikutnya, hari berikutnya, minggu berikutnya, bulan berikutnya, dan tahun berikutnya serta masa-masa berikutnya semua sudah ada kepastiannya. Kita sebagai manusia hanya tinggal menjalani dengan sebaik-baiknya.

Keyakinan seperti di atas menjadi salah satu penghibur bagi kami, saya dan keluarga, menghadapi saat sekarang ini. Kenapa demikian ? Tak lain dan tak bukan karena kemunculan tiba-tiba SK pindah tugas ke tempat baru (memangnya ada yang tidak tiba-tiba ?). Rasanya belum lama di Mataram, baru dua tahun, bahkan pengalaman sebelumnya biasanya paling cepat lima tahun baru dipindah ke tempat baru. Sebagai perbandingan saja, di Samarinda dulu lima tahun dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000. Di sanalah mendapatkan jodoh isteri tercinta dan mendapat satu orang anak laki-laki.

Kemudian pindah ke Sukabumi. Di sana selama enam tahun dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Kata orang sih karena cuacanya cukup dingin, di Sukabumi lahir dua orang anak perempuan. Bahkan sempat hamil lagi anak keempat tetapi pada usia kehamilan bulan ketujuh dipindah ke Mataram dan lahir di sana. Di Mataram ternyata hanya diberi waktu dua tahun, 2006 sampai dengan 2008. Sesudah itu harus terbang melewati dua pulau, Bali dan Jawa, untuk bisa hinggap di Palembang.

Rasanya belum beres melakukan penyesuaian dengan keadaan setempat, mengenal adat istiadat, kebiasaan, dan yang lainnya, harus pindah lagi. Anak saya yang pertama dengan begini akan sekolah SD di tiga sekolah di tiga kabupaten yang berbeda. Anak kedua bahkan baru masuk SD kelas 1 selama tiga bulan kurang lebih, belum lagi dipotong libur puasa dan lebaran. Padahal waktu mau sekolah di awal masuk harus didampingi dulu sampai tiga hari. Belum lagi nanti di tempat baru kalau mau masuk sekolah pasti harus mengeluarkan biaya pendaftaran lagi, penyesuaian lagi, dan lagi-lagi yang lainnya. Semua sudah pada mafhum, sekolah sekarang, SDpun banyak sekali tetek bengeknya. Salah-salah yang muncul nanti bengeknya saja karena pusing memikirkan biaya sekolah.

Ya sudahlah, seperti di atas tadi semuanya memang sudah ada jalannya sendiri-sendiri. Daripada bengek gara-gara memikirkannya mendingan dijalani saja apa adanya dulu, siapa tahu ada sesuatu yang lebih baik di balik peristiwa ini.

Baca Selengkapnya ...